Malang, bbs-news.id — Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, ketika budaya global dengan mudah menembus batas negara, muncul pertanyaan penting bagi sebuah bangsa: bagaimana menjaga identitas tanpa kehilangan kemampuan beradaptasi?
Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu napas utama Kongres Kebudayaan Nusantara Iyang digelar di Pendopo Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (8/8/2026).
Forum kebudayaan ini mempertemukan berbagai unsur masyarakat yang selama ini menjadi penjaga, pelaku, dan pewaris kebudayaan Nusantara. Mereka datang membawa satu kepentingan yang sama, yakni merumuskan langkah bersama untuk menjaga akar budaya bangsa sekaligus mendorong pemajuan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia.
Kongres tersebut dihadiri berbagai entitas kebudayaan, mulai dari penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat adat, para raja, ratu, sultan, datu, penglingsir, pemuka adat, pelaku seni budaya, pelestari budaya spiritual Nusantara, sejarawan, arkeolog, akademisi, hingga masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan budaya bangsa.
Mengusung semangat Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa sebagaimana pesan Rakawi Tantular, kongres ini menegaskan bahwa keberagaman budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu.
Budaya adalah kekuatan bangsa yang membentuk karakter, memperkuat identitas, dan menjadi modal penting dalam menghadapi perubahan zaman.
“Kongres Kebudayaan Nusantara I digelar sebagai ruang musyawarah untuk menyatukan pandangan, menggali jejak-jejak peradaban Nusantara, serta menemukan kembali akar jati diri bangsa sebagai fondasi pemajuan kebudayaan nasional,” ujar KRHA Prof (HC) Dr. Dimas Indianto Sastronagoro, Ketua Pimpinan Sidang Kongres Kebudayaan Nusantara.
Dari Jejak Peradaban Menuju Masa Depan Budaya
Rangkaian Kongres Kebudayaan Nusantara diawali melalui Pra Kongres pada 2 Agustus 2026. Setelah itu, peserta mengikuti pembahasan dalam berbagai komisi, menyampaikan gagasan, serta menyampaikan aspirasi melalui rangkaian sidang dan musyawarah.
Berbagai pemikiran yang muncul kemudian dikristalisasi menjadi bahan rekomendasi strategis untuk memperkuat arah pemajuan kebudayaan nasional.
Dalam forum tersebut, peserta melihat bahwa kebudayaan tidak hanya berbicara tentang benda bersejarah, kesenian, tradisi, maupun ritual masyarakat.
Lebih jauh, kebudayaan menyimpan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi karakter bangsa.
Karena itu, upaya menggali kembali jejak peradaban Nusantara menjadi bagian penting untuk memahami kembali identitas bangsa di tengah perubahan global.
Salah seorang peserta Kongres Kebudayaan Nusantara, Abby, menilai forum tersebut memiliki arti penting karena menghadirkan berbagai unsur kebudayaan dari berbagai daerah di Indonesia.
Menurutnya, salah satu keputusan penting kongres adalah menjadikan forum tersebut sebagai gerakan kebudayaan yang berjalan secara berkelanjutan.
“Peserta menyepakati bahwa Kongres Kebudayaan Nusantara akan terus dilaksanakan sebagai ruang bersama seluruh entitas kebudayaan bangsa. Ini merupakan langkah baik untuk menjaga peradaban budaya Nusantara,” ujar Abby yang juga menjadi anggota Komisi V Kongres Kebudayaan Nusantara.
Kongres berikutnya, yakni Kongres Kebudayaan Nusantara II, direncanakan berlangsung di Provinsi Jawa Barat. Waktu dan lokasi pelaksanaan akan diinformasikan kemudian.
Keputusan tersebut menjadi penegasan bahwa pemajuan kebudayaan membutuhkan kesinambungan, bukan hanya melalui kegiatan pertemuan, tetapi melalui dialog, kerja bersama, dan keterlibatan lintas generasi.
Salah satu agenda penting setelah kongres adalah penyusunan naskah rekomendasi kebudayaan nasional.
Seluruh hasil pembahasan dari berbagai komisi akan dirumuskan menjadi dokumen yang merepresentasikan aspirasi peserta kongres.
Penyusunan rekomendasi tersebut dilakukan secara terbuka dengan melibatkan berbagai unsur kebudayaan bangsa serta kalangan akademisi.
Proses penyempurnaan naskah akan berlangsung dalam kurun waktu satu hingga tiga bulan melalui berbagai sarana komunikasi, termasuk forum dialog daring.
“Langkah tersebut dilakukan agar rekomendasi yang dihasilkan tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi benar-benar mencerminkan suara berbagai kelompok kebudayaan di Indonesia,” ujar Dimas Indianto Sastronagoro didampingi Sekretaris Pimpinan Sidang Agung Rizkhi Zaifudhin, A.Md.T., S
Kongres juga menyepakati bahwa forum komunikasi peserta tidak akan berhenti setelah kegiatan selesai.
Forum tersebut akan dikembangkan menjadi ruang koordinasi antar-entitas kebudayaan bangsa.
Melalui wadah tersebut, para pelaku dan pewaris kebudayaan dapat terus bertukar gagasan, memperkuat jaringan, serta menjaga komunikasi dalam upaya pelestarian budaya Nusantara.
Peserta juga membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk memberikan masukan dan aspirasi guna memperkaya rekomendasi pemajuan kebudayaan nasional.
Kongres Kebudayaan Nusantara I di Malang menjadi penanda bahwa kebudayaan tidak hanya diwariskan untuk dikenang, tetapi harus terus dihidupkan.
Sebab sebuah bangsa tidak hanya dikenal dari kemajuan teknologi dan ekonominya, tetapi juga dari seberapa kuat menjaga akar nilai yang membentuk jati dirinya.
Dari Malang, suara kebudayaan Nusantara kembali digaungkan menjaga masa lalu, memahami masa kini, dan menyiapkan masa depan.
Risanta/Andra
