Berkurban, Investasi Ritual Sekaligus Investasi Sosial

Ilustrasi Sampah

Barabai, Bbs-news.id --Menghitung hari, perayaan Idul Adha 1445H kurang dari sebulan lagi. Tentu momentum Iedul Adha ini akan dibarengi dengan prosesi penyembelihan hewan kurban, baik sapi maupun kambing yang nanti daging kurban itu akan dibagikan kepada mereka yang berhak menerimanya. Pembagian daging kurban ini sudah pasti memerlukan bungkusan dan umumnya memakai bungkus plastik pada umumnya yang cenderung menimbulkan masalah sampah di kemudian hari. 

Berbagai kalangan tak bosannya mengingatkan, agar tak gunakan wadah atau bungkus daging dari plastik sekali pakai. Banyak pilihan bungkus atau wadah bisa digunakan dari daun-daunan seperti daun pisang, pelepah pinang, bakul purun, besek bambu dan sekarang tersedia produk plasticbag yang cukup ramah lingkungan.

Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan LAZISMU Hulu Sungai Tengah sudah mempersiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari termasuk juga pemilihan packaging pembagian daging kurban Lazismu. Tahun ini, khusus Lazismu HST kemungkinan melaksanakan penyembelihan (minimal) 2 ekor sapi urunan kurban untuk dibagikan ke warga Mualaf Meratus dan 1 ekor untuk Warga di desa Karatau.
 
Ada yang berbeda proses kurban kali ini. Sebagai bentuk kepedulian dan pengambilan peran akan kampanye bebas sampah plastik, Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan LAZISMU Hulu Sungai Tengah memutuskan menggunakan Bakul Purun dan Plastik Ramah Lingkungan sebagai media pembungkus daging kurban yang akan dibagikan, menggantikan plastik biasa yang ada di pasaran. 

Himbauan dan instruksi dibagikan ke setiap Pimpinan Cabang dan Ranting Muhammadiyah se-Hulu Sungai Tengah termasuk Ortom di HST yang nantinya diteruskan ke semua masjid-Masjid dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di Hulu Sungai Tengah yang akan melaksanakan penyembelihan hewan kurban tahun 1445H. Sebagai langkah awal, instruksi ini akan dilaksanakan dan direalisasikan oleh Takmir Masjid Mujahidin Barabai sebagai pilot project melalui kepanitiaan Kurban Iedul Adha 1445H. 

Bakul Purun ini adalah produk hasil kerajinan lokal para pengrajin Purun yang ada di Desa Walatung, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Selain soal bagian dari usaha kampanye plastic free, juga maksud lainnya adalah sebagai upaya memberdayakan para pengrajin produk lokal (Bakul) yang terbuat dari anyaman Purun. 

Sebagai salah satu desa pengrajin Purun, desa Walatung sudah sepantasnya dijadikan sentra industri Purun yang bisa dibanggakan serta didukung oleh seluruh pihak, baik pemerintah ataupun masyarakat Hulu Sungai Tengah umumnya. 

Berhenti pakai kantong plastik sekali pakai ketika momen Iedul Adha adalah misi LAZISMU dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Hulu Sungai Tengah sebagai bagian dari tanggungjawab moral serta sosial terhadap bahaya plastik (konvensional). 

Edukasi ini diiringi harapan agar bisa diikuti seluruh pihak yang melaksanakan pembagian daging kurban. Tak hanya di lingkungan warga Muhammadiyah namun juga masyarakat luas pada umumnya. Tak hanya terbatas di momentum Iedul Adha akan tetapi jua dalam bentuk penerapan kehidupan sehari-hari warga. 

Dampak akan sampah plastik ini sudah sering dipaparkan dalam banyak kajian-kajian ilmiah. Inilah mengapa perlunya gerakan bersama untuk menyadarkan akan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan akibat pemakaian sampah plastik berlebih yang berpotensi mencemari lingkungan dan ekosistim alam. 

Perilaku ini harus kita ubah salah satunya tak menggunakan plastik (konvensional) di waktu proses pembagian daging kurban. 

Agama mengajarkan bahwa beragama harus secara holistik atau kaffah dalam kehidupan, yaitu mengendalikan diri dari hal yang merusak. Baik merusak diri sendiri atupun merusak lingkungan. 

Semangat mengedepankan “rahmatan Lil alamin (rahmat bagi seluruh alam)” harus diterapkan semaksimal mungkin kepada alam semesta, gender dan sosial. Ketiga hal itu, saling berkaitan dan tak bisa terpisahkan dalam konsep rahmatan lil alamin yang disebutkan tadi.

Selama ini, kita (ummat Muslim) acapkali berbicara persoalan hablum minallah (hubungan dengan Tuhan) dan hablum minannas (hubungan dengan manusia). Namun, jarang sekali menekankan soal hubungan kita dengan alam.

Persoalan kepedulian ini harus jadi keputusan politik misal dengan melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai sebagai bungkus daging hewan kurban. Tak hanya melarang penggunaan plastik sekali pakai, juga memperhatikan secara ekologis semua proses perayaan Idul Adha. 

Bayangkan jika seandainya di Hulu Sungai Tengah saja, rata-rata setiap Iedul Adha dengan hewan kurban puluhan atau ratusan sapi disembelih. Artinya, dalam satu hari raya kurban di Hulu Sungai Tengah menghasilkan ratusan ribu helai kantong plastik. Jika fenomena itu kemudian dialihkan ke penggunaan plastik yang ramah lingkungan atau lebih khusus lagi Bakul Purun, maka tentu tak hanya sekadar berdamai dengan lingkungan akan tetapi mampu membuat peningkatan penghasilan dan memberdayakan para pengrajin Purun dan seumpamanya. 

Sudah seharusnya semua pihak bersama-sama membangun perspektif tak pakai kantong plastik buat daging kurban. Bahkan jika perlu dibuat regulasi formil tentang keharusan ini di tiap pelaksanaan pembagian dagung kurban pada momen Iedul Adha sehingga Iedul Adha menjadi semakin membawa berkah. InsyaAllah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan LAZISMU HST juga siap berada di garda depan dalam kampenye kebaikan ini. ( Keyla Untara) 

Editor : Andra