Adaro Ubah Paradigma Reklamasi Tambang, Fokus pada Restorasi Ekosistem Lewat Ecological Green Belt


Balangan, bbs-news.id – Kawasan pascatambang milik PT Adaro Indonesia di wilayah Paringin, Kabupaten Balangan, kini berubah drastis menjadi area hijau yang asri dan penuh kehidupan. 

Pemandangan tersebut terlihat saat sejumlah jurnalis Kalimantan Selatan diajak meninjau langsung lokasi reklamasi lahan bekas tambang, Kamis (22/5/2026).

Sulit membayangkan kawasan yang kini dipenuhi pepohonan rindang itu sebelumnya merupakan area eksploitasi batu bara. Kontur lahan yang dulu terbuka kini tertutup vegetasi yang tumbuh subur. 

Di bagian lembah kawasan reklamasi bahkan terbentuk danau pascatambang dengan air yang cukup jernih dan menjadi habitat berbagai jenis ikan air tawar.

Ikan nila, gurame, papuyu hingga ikan pipih berkembang dalam jumlah besar di kawasan tersebut. Kondisi ini menjadi bukti bahwa proses reklamasi yang dilakukan secara berkelanjutan mampu mengembalikan fungsi lingkungan di area bekas tambang.

Land and Community Management Department Head PT Adaro Indonesia, Djoko Soesilo, mengatakan bahwa perusahaan menjalankan reklamasi secara paralel dengan kegiatan operasional tambang.

Menurutnya, Adaro tidak menunggu aktivitas penambangan selesai untuk melakukan pemulihan lahan. Saat kegiatan tambang berlangsung, proses reklamasi juga terus dijalankan di area yang telah selesai dieksploitasi.

“Jadi ketika penambangan berjalan, pemulihan lingkungan juga dilakukan secara bertahap,” ujarnya.

Program reklamasi dan pascatambang Adaro selama ini dinilai berhasil mengubah lahan eks tambang menjadi kawasan yang lebih produktif dan ramah lingkungan.

 Berbagai upaya penghijauan dilakukan melalui penanaman vegetasi lokal, konservasi tanaman endemik, hingga pengembangan kawasan budidaya berbasis masyarakat.

Mine Closure Program Management Section Head PT Adaro Indonesia, Riza Novian, menjelaskan bahwa perusahaan tidak hanya fokus pada revegetasi lahan, tetapi juga mendorong program pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan.

Program tersebut meliputi budidaya madu kelulut, pengembangan sektor perikanan, hingga pembinaan UMKM lokal agar masyarakat memiliki sumber ekonomi berkelanjutan setelah aktivitas tambang berakhir.

Selain itu, pengelolaan kualitas air tambang dan pemantauan lingkungan dilakukan secara berkala guna memastikan kawasan pascatambang tetap aman dan berfungsi optimal. 

Sejumlah area bahkan mulai diarahkan menjadi kawasan konservasi dan wisata edukasi lingkungan.

Health Safety Environment Division Head PT Adaro Indonesia, Rusdi Husin, menuturkan bahwa perusahaan juga menyiapkan nursery atau pusat pembibitan tanaman untuk mendukung keberhasilan reklamasi.

Menurutnya, keberadaan pusat pembibitan tersebut penting untuk menjaga ketersediaan tanaman berkualitas sekaligus mendukung pelestarian keanekaragaman hayati di kawasan pascatambang.

Tak hanya penghijauan, Adaro juga mulai mengembangkan pemanfaatan void atau lubang bekas tambang menjadi danau pascatambang yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi. Kawasan tersebut kini dimanfaatkan sebagai habitat biota air sekaligus budidaya ikan nila unggul jenis BEST (Bogor Enhanced Strain Tilapia).

Transformasi kawasan bekas tambang menjadi area yang lebih produktif menunjukkan bahwa reklamasi membutuhkan komitmen dan perencanaan jangka panjang. 

Keberhasilan tersebut juga membawa PT Adaro Indonesia meraih sejumlah penghargaan lingkungan tingkat nasional, termasuk PROPER dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Pemerintah daerah berharap pengelolaan pascatambang seperti yang dilakukan Adaro dapat menjadi contoh bagi perusahaan tambang lainnya agar tidak hanya berorientasi pada eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga memperhatikan pemulihan lingkungan dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.

Pascatambang Jadi Awal Kehidupan Baru
Pengelolaan pascatambang kini menjadi bagian penting dalam mewujudkan praktik pertambangan berkelanjutan. 

Reklamasi tidak lagi dipandang sekadar menutup lahan bekas tambang, melainkan bagaimana kawasan tersebut kembali memiliki fungsi ekologis dan ekonomi.

Apa yang dilakukan PT Adaro Indonesia memperlihatkan bahwa lahan bekas tambang masih dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan produktif, mulai dari penghijauan, budidaya perikanan, pengembangan madu kelulut, hingga kawasan edukasi lingkungan.
Lebih dari itu, program pascatambang juga menjadi langkah strategis dalam mempersiapkan masyarakat menghadapi masa setelah tambang tidak lagi beroperasi.

Karena sejatinya, keberhasilan industri pertambangan bukan hanya dilihat dari besarnya hasil produksi batu bara, tetapi juga dari kemampuan menjaga lingkungan dan menciptakan keberlanjutan kehidupan masyarakat di masa depan. (Andra)